Rasulullahpun sering mengungkap keutamaan shalat Subuh. Berikut lima sabda Rasulullah tentang shalat Subuh. REPUBLIKA.CO.ID, Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah.
Oleh Musthafa Luthfi* HARI NAKBAH bencana, itulah sebutan yang diberikan oleh warga Palestina sehubungan dengan berdirinya negara Israel pada bulan Mei 1948 oleh negara-negara besar imperialisme. Sejak saat itu, bencana bangsa Palestina tak kunjung usai hingga lebih dari 62 tahun masa nakbah itu berlangsung hingga saat ini. Setiap tanggal 14 Mei adalah hari yang tidak terlupakan bagi bangsa Palestina dan bangsa Arab pada umumnya. Karenanya setiap datang tanggal kelabu itu rakyat Palestina dan dunia Arab pada umumnya memperingatinya sebagai Hari Nakbah, di lain pihak Israel memperingatinya sebagai hari jadinya. Sebuah pemandangan yang sangat kontras. Di satu sisi negara pencaplok memperingati hari jadinya di atas tanah caplokannya, di sisi lain bangsa terjajah yang terbuang memperingati bencana yang menimpanya yang belum ada tanda-tanda akan berakhir. Pada awal-awalnya peringatan tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat, bahkan sering menjadi inspirasi dunia Arab untuk merebut kembali wilayah Arab yang diduduki negeri Zionis itu dengan kekuatan senjata, sebagaimana semboyan yang sangat terkenal di tahun 1950-an; “sesuatu yang diambil dengan kekuatan militer maka harus dikembalikan dengan kekuatan militer pula.“ Paling tidak hari Nakbah telah menginspirasikan dua perang besar Arab-Israel pascaberdirinya negeri Yahudi itu pada 1948, yakni perang 1967 dan perang 1973. Sayang kedua perang tersebut tidak berbuah ni`mah lawan dari nakbah buat bangsa Palestina, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Nakbah demi nakbah menimpa, sehingga sebagian penulis Arab menyebut nakbah Palestina sebagai nakabaat bentuk jamak dari nakbah yang artinya nakbah demi nakbah bencana demi bencana menimpa. Kenyataannya memang demikian, setelah perang enam hari pada 1967 yang menyebabkan Israel berhasil memperluas pendudukannya di wilayah Arab dan Palestina, termasuk pendudukan kota Al-Quds, berlanjut dengan perang Ramadhan 1973 yang memupuskan kehebatan militer Israel yang pernah disebut sebagai kekuatan la yuqhar tak terkalahkan, tapi kenyataannya perang ini tidak membuat negeri Yahudi yang didukung kuat sekutu Baratnya, terutama AS, bergeming. Nakbah pun masih berlanjut. Yang terbesar adalah perang 1982 saat negeri zionis itu melakukan invasi ke Libanon dan berhasil meluluhlantahkan negeri mungil yang menampung ratusan ribu warga Palestina yang terusir dari tanah airnya. Dalam invasi itu diwarnai pembantaian sadis warga Palestina tak berdaya oleh pasukan Israel bersama pasukan Kristen Libanon yang menewaskan lebih dari 5 ribu warga Palestina tak berdosa di kamp Sabra dan Satila dengan aktor intelektualnya Ariel Sharon, mantan PM Israel yang sekarang masih dalam kondisi sekarat bagaikan mummi Fir`aun. Perang demi perang setelahnya telah menambah nakbah bagi bangsa negeri satu-satunya yang masih terjajah di muka bumi ini. Sebut saja misalnya perang musim panas tahun 2006 antara Hizbullah dan Israel, lalu perang terakhir yang pantas disebut holocaust di Gaza pada akhir 2008 hingga awal 2009 yang menewaskan lebih dari 2 ribu warga Gaza plus embargo yang tak kunjung berakhir hingga saat ini. Karena itu pantasnya nakbah itu diperingati setiap hari karena tiada hari bagi bangsa Palestina kecuali nakbah yang tiada henti. Meskipun demikian, sangat penting untuk menjadikan momentum 14 Mei sebagai hari nakbah al-uula bencana awal pada 1948 sebagai hari untuk mengingatkan bangsa Arab dan umat Islam pada umumnya tentang kewajiban mereka untuk membela tanah Palestina warisan para Nabi, yang di dalamnya terdapat tempat suci dan kiblat pertama kaum Muslimin. Sayang hari nakbah tersebut makin terlupakan, terutama setelah persetujuan Oslo pada 13 September 1993 antara Organisasi Pembebasan Palestina PLO dengan Israel. Persetujuan itu akhirnya telah menjadi almarhum yang dikubur tak lama setelah persetujuan itu tercapai sehingga persetujuan ini pun membawa nakbah pula bagi bangsa Palestina terjajah. Dalam lima tahun belakangan ini, hari nakbah ini benar-benar asing bagi masyarakat Arab sendiri. Bahkan pada HUT Nakbah ke-62 pada 14 Mei lalu, hanya dihitung dengan jari media massa Arab yang menyiarkan hari kelabu itu kepada publik, termasuk siaran unjuk rasa yang tidak lagi besar di bumi Palestina memperingati hari bencana itu, padahal paling tidak ratusan TV satelit Arab yang dipancarkan di udara. Tersibukkan Kenyataan inilah yang memang diidam-idamkan negeri Zionis dengan harapan yang lebih besar dari itu, yakni isu Palestina tidak lagi dijadikan isu sentral dunia Arab dan Islam agar negeri Palestina yang diidamkan tidak pernah ada. Seandainya harus ada, maka negeri Palestina “merdeka” tersebut harus sesuai dengan muwashafaat spesifikasi negeri Yahudi itu. Hari Nakbah makin terlupakan bukan hal yang aneh lagi dewasa ini, karena setiap negara Arab dan Islam tersibukkan dengan urusan dan masalah masing-masing yang sengaja diciptakan negeri-negeri imperialis. Pada HUT Nakbah tahun ini paling tidak ada tiga isu penting di kawasan yang menjadi fokus perhatian publik setempat, bahkan publik dunia yang cukup untuk menghilangkan perhatian umum dari nakbah Palestina. Isu pertama adalah nuklir Iran yang menunjukkan perkembangan penting, setelah Iran setuju menukar uraniumnya di Turki. Iran, Brasil, dan Turki, pada 17 Mei lalu di Teheran menandatangani satu perjanjian pertukaran bahan bakar nuklir yang bertujuan untuk menghilangkan kecemasan internasional menyangkut program atomnya. Negeri Mullah itu setuju menukarkan kilogram uraniumnya yang diperkaya dalam kadar rendah dengan bahan bakar nuklir yang diperkaya dalam kadar tinggi untuk digunakan bagi satu reaktor riset medis, di mana pertukaran akan berlangsung di Turki. Langkah maju Iran tersebut ternyata disambut dingin Barat, bahkan AS mengajukan draft rancangan sanksi baru yang lebih berat lewat forum DK PBB. Bagi Iran sendiri tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kecurigaan semula tentang sikap dunia Barat yang tidak menginginkan negara berkembang menguasai teknologi nuklir terbukti sudah lewat respon dingin dan tekanan lewat embargo. Meskipun tetap akan berdampak atas ekonominya, paling tidak Iran bisa beralasan untuk menguasai teknologi nuklir lebih cepat tanpa harus khawatir pemantauan Badan Energi Atom Internasional IAEA nantinya karena berhak menolak inspeksi akibat embargo. Isu kedua adalah latihan perang-perangan Israel yang diasumsikan sebagai cara untuk menghadapi serangan roket Hizbullah dan Suriah, bahkan kemungkinan Iran pada perang mendatang. Sebagian melihat latihan yang dimulai 23 Mei selama lima hari sepanjang perbatasan dengan Libanon itu sebagai bentuk persiapan negeri Zionis tersebut untuk menginvasi lagi Libanon sebagai balas dendam atas “kekalahan” pada perang 2006. Di lain pihak Iran pun melakukan latihan yang sama yang dimulai pada 24 Mei selama tiga hari yang mengkhawatirkan bangsa-bangsa di kawasan seolah-olah dua negara saling menunjukkan otot. Sebelum dua latihan itu berlangsung, telah diawali dengan saling gertak antara kedua negara sehingga menjadi fokus perhatian umum di bulan nakbah Palestina tersebut. Isu ketiga adalah masalah air Sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan bagi Mesir dan Sudan. Pasalnya pada 14 Mei lalu sebanyak 4 negara dari total 9 negara di kawasan Sungai Nil menandatangani persetujuan inisiatif untuk mengubah jatah pembagian air Nil selama ini yang 80 persen lebih diperuntukkan untuk dua negara utama kawasan, yakni Mesir dan Sudan. Keempat negara itu yakni Ethiopia, Rwanda, Tanzania, dan Uganda menandatangani persetujuan tersebut Di Entebbe, Uganda. Tiga negara lainnya yakni Burundi, Kenya, dan Republik Demokrasi Kongo berjanji akan menandatangani perjanjian itu tahun depan, sementara dua anggota utama Mesir dan Sudan menolak tegas karena akan mengurangi jatahnya yang telah ditetapkan sejak tahun 1929 dan ditinjau lagi pada tahun 1959. Mesir bahkan mengancam akan melakukan segala cara, termasuk militer, untuk mempertahankan jatahnya mengingat Sungai Nil ibarat roh bagi bangsa Mesir. Selama ini dari 84 milyar kubik aliran sungai itu setahun, sebanyak 55,5 milyar kubik jatah Mesir lalu, Sudan sebanyak 18,5 milyar sehingga kedua negara menyedot sekitar 87 persen, sedangkan sisanya dibagi oleh 7 negara lainnya. Menghadapi ancaman Mesir tersebut Presiden Kongo dan PM Kenya bertemu dengan Presiden Mubarak di Kairo pada 23 Mei untuk menenangkan Mesir bahwa penandatanganan persetujuan inisitif tersebut tidak bermaksud membahayakan Mesir. Sikap Kenya dan Kongo ini masih belum cukup karena tidak menutup kemungkinan intervensi luar, terutama Barat dan Israel, untuk mengobarkan perang air di kawasan tersebut. Perimbangan kekuatan Dengan makin kompleksnya isu yang dihadapi oleh setiap negara kawasan, maka sangat sulit bagi dunia Arab untuk lebih fokus pada penyelesaian isu Palestina dewasa ini sehingga konsesi demi konsesi yang diberikan Arab pada Israel justru direspon negeri Yahudi itu dengan makin meningkatkan pencaplokan dan pengusiran warga Arab dari tanah air mereka, terutama di kota Al-Quds yang sedang menghadapi yahudisasi besar-besaran. Kenyataan ini lebih disebabkan dengan kesenjangan perimbangan kekuatan militer di kawasan yang diakibatkan keunggulan Israel mutlak atas kekuatan militer Arab. Senjata konvensional Israel unggul mutlak atas seluruh negara Arab, ditambah lagi lebih dari 200 hulu ledak nuklir siap ditembakkan ke kota-kota utama di seluruh dunia Arab, menjadi unsur penekan atas dunia Arab dalam setiap perundingan tentang Palestina khususnya dan konflik Arab-Israel pada umumnya. Karena itu bukanlah sesuatu yang aneh bila solusi mengakhiri nakbah itu adalah senjata nuklir. Senjata nuklir Arab atau paling tidak penguasaan teknologi nuklir yang dapat menjurus kepada pembuatan senjata pemusnah massal itu adalah sebagai pembuka jalan menuju berakhirnya nakbah yang telah berlangsung lebih dari seabad tersebut. Sebenarnya banyak alasan bagi dunia Arab untuk mulai dengan tegas menolak denuklirisasi secara sepihak. Munculnya Iran sebagai kekuatan nuklir baru di kawasan setelah Israel, bisa menjadi alasan telak untuk segera melakukan hal yang sama karena tidak ada dalih bagi negara-negara besar yang menggunakan Badan IAEA untuk menekan Arab agar tetap mempertahankan perjanjian non-prolifirasi nuklir NPT. Bila kawasan Timur Tengah ingin dijadikan kawasan bebas senjata nuklir, maka semua negara harus masuk dalam perjanjian NPT seperti yang selalu didengungkan Turki akhir-akhir ini. Arab seharusnya segera bergabung dengan Turki untuk mengkampanyekan isu ini sehingga Israel tidak lagi secara terus menerus berada di luar jangkauan hukum internasional. Barat tidak akan mengubah kebijakannya yang menjadikan Israel selalu di luar jangkauan hukum selama tidak ada usaha dari dunia Arab secara kolektif dan negara-negara Islam di kawasan, terutama Iran dan Turki yang saling mendukung mengkampanyekan masalah tersebut, dibarengi ancaman untuk keluar dari NPT bila negeri Zionis itu tidak bergabung dalam perjanjian NPT tersebut. Paling tidak Mesir pernah mencoba mengancam keluar dari NPT pada 1995 yang mendapat dukungan kuat negara-negara OKI dan GNB dengan alasan Israel enggan bergabung. Sayang karena tidak dilakukan secara kolektif oleh dunia Arab atau negara kawasan sehingga nyali Mesir sebatas ancaman sebab tidak mampu menghadapi tekanan Barat sehingga ancaman dicabut kembali. Sekarang waktunya ancaman dilakukan secara kolektif agar bargaining position posisi tawar dunia Arab bertambah kuat menghadapi sikap keras kepala negeri Zionis yang makin gencar melakukan yahudisasi kota suci Al-Quds. Walaupun Arab misalnya hanya sebatas berusaha menyamai senjata konvensional Israel, tetap saja senjata nuklir menjadi unsur penekan yang mengkhawatirkan pihak yang tidak memilikinya. Sudah waktunya antara Arab dan Iran saling dukung menyangkut kebijakan Timur Tengah sebagai zona bebas senjata nuklir dengan mendesak dunia secara bersama-sama agar Israel masuk bergabung. Bila tidak, setiap negara kawasan berhak memiliki kemampuan yang sama atau paling tidak teknologi nuklir yang dapat menjadi unsur tarhib intimidasi timbal balik. Singkatnya, nakbah Palestina sulit berakhir dalam posisi status quo no peace no war saat ini sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa senjata dan teknologi nuklir Arab bisa menjadi pembuka jalan menuju berakhirnya nakbah. Pengalaman-pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa negeri Zionis itu hanya akan tunduk pada logika kekuatan, tanpa itu jangan berharap banyak bila nakbah akan segera berakhir. [Sana`a – Yemen, 10 Jumadil Akhir 1431/ Penulis adalah kolumnis kini sedang berdomisili di Yaman
PresidenPalestina: Jika Israel Tolak Solusi Dua Negara, Kami Ambil Opsi Lain Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa penolakan Israel terhadap solusi dua negara akan memaksa Palestina menempuh alternatif politik lain.
Dalam pidatonya di Yerusalem, Yahya Cholil Staquf menyerukan agar Palestina dan Israel berdamai. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A Jakarta, CNN Indonesia - Kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Yerusalem menuai kecaman dan kemarahan dari kalangan pembela Palestina. Meski menyatakan lawatan itu tidak mewakili posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, ataupun Nadhlatul Ulama dimana dia menjadi Sekjen. Sejumlah kalangan menyayangkan lawatan Yahya yang terjadi di saat Israel melibas demonstran Palestina di Jalur Gaza. Lebih dari 120 demonstran Palestina tewas dan lainnya pidatonya yang diterima Yahya Staquf menyatakan misinya, selain atas nama pribadi sebagai warga muslim, tapi juga menyerukan kepada Israel dan Palestina untuk menghentikan pidato Yahya di Yerusalem Saya mengucapkan terima kasih kepada ICFR Israel Council on Foreign relations yang telah mengundang saya untuk datang dan berbicara di forum ini. Saya terharu. Saya, seorang Muslim, dari negeri mayoritas Muslim terbesar, dari organisasi Islam terbesar. Di tengah atmosfer yang diwarnai ketegangan, bahkan permusuhan, kebencian dan dendam, Anda mengundang saya. Anda meminta saya untuk berbicara. Dan Anda siap mendengarkan. Saya terharu. Saya tidak melihat makna lain dari ini, selain bahwa Anda semua mempunyai niat baik. Anda tulus menginginkan jalan keluar dari kemelut ini. Anda percaya, atau sekurang-kurangnya ingin menguji kepercayaan Anda, pada harapan akan perdamaian. Dan masa depan yang lebih saya datang kesini bukan atas nama Indonesia, negeri asal saya, bukan pula atas nama Nahdlatul Ulama, organisasi tempat saya mengabdi. Saya datang atas nama kegelisahan dan kesedihan saya pribadi. Kegelisahan dan kesedihan yang tumbuh diatas kesaksian saya akan penderitaan orang-orang Palestina. Karena penderitaan mereka bukanlah milik mereka sendiri saja. Penderitaan mereka adalah juga kekalutan Bangsa-bangsa Arab dan kegalauan Dunia Islam. Dan pada saat yang sama, laksana gambaran di seberang cermin, penderitaan Palestina adalah juga keresahan Israel dan kegamangan Dunia Barat. Dan kini, setelah berpuluh-puluh tahun, semua itu hampir-hampir mengarah pada keputusasaan umat tidak tahu, apakah masih ada diantara kita yang menyaksikan sendiri, bagaimana semua ini dimulai. Yang jelas, kita semua adalah anak-anak dari sejarah yang penuh masalah troubles. Sejarah yang diwarnai curiga, kebencian, rasa sakit dan amarah. Sejarah yang bergulir diluar kendali kita. Rangkaian sebab-akibat dari tindakan-tindakan diluar keputusan kita. Sejarah yang mewariskan kepada kita permusuhan dan ikatan saling menyakiti seolah perjanjian takdir.[GambasFacebook]Izinkan saya bertanya apakah kita ingin meneruskan warisan yang sangat tidak nyaman ini kepada generasi mendatang? Apakah kita senang anak-cucu kita merasakan ketidakberuntungan dan sakit seperti yang kita hidupi sekarang?Sudah berapa lama kita menanggung sakit ini? Sejak puluhan tahun yang lalu? Ratusan tahun? Ribuan tahun?Kini Anda memperingati 70 tahun berdirinya Negara Israel. Baiklah. Sudah berapa banyak, sejak 70 tahun yang lalu itu, orang mencoba menghentikan kemelut ini? Kakek-nenek kita? Bapak-ibu kita? Orang-orang besar datang dan pergi. Melakukan tindakan-tindakan paling berani. Berjuang untuk saling mengalahkan atau mendamaikan. Dan hari ini, kita masih seperti saya, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, enam belas tahun yang lalu menceritakan pandangan seseorang tentang upaya penyelesaian masalah Israel-Palestina, yang menurut guru saya sangat menarik compelling. Menurut orang itu, upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini hanya mempertimbangkan aspek-aspek politik dan militer, melibatkan hanya pemimpin-pemimpin politik dan militer, dan terbukti gagal. Maka patut dicoba untuk menambahkan unsur baru dalam upaya-upaya itu, yaitu unsur agama, dengan memberdayakan inspirasi-inspirasi agama dan melibatkan pemimpin-pemimpin REUTERS/Mohammed SalemKorban kekerasan di Jalur GazaGuru saya melihat gagasan itu sangat menarik. Tapi beliau juga melihat masalah besar, bahwa didalam setiap agama itu sendiri terdapat pertentangan-pertentangan pandangan, interpretasi, dan madzhab, bahkan pertentangan-pertentangan pula diantara para pemimpinnya. Maka gagasan itu kelihatan menarik sekali saat diucapkan, tapi pasti sulit sekali untuk Kedutaan Besar Israel di Washington, DC beberapa minggu yang lalu, seseorang meminta konfirmasi saya mengenai adanya ajaran-ajaran Islam yang mendorong permusuhan terhadap Yahudi. Saya tidak menjawab secara langsung pertanyaan itu. Saya katakan, saya ingin mencari jalan keluar. Dan kalau agama menghalangi jalan keluar, mari kita tinggalkan maksud saya menyarankan agar orang melepaskan diri dan membuang agama. Saya sendiri beriman kepada Tuhan dan rasul-rasulNya Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan semua lainnya. Iman yang saya pilih ketimbang nyawa saya. Tapi dogma-dogma adalah interpretasi. Jika suatu interpretasi agama tidak membantu kita memecahkan masalah, mari kita jelajahi interpretasi-interpretasi mangatakan bahwa obat apa pun tidak akan ada gunanya bagi penderita diabetes dan penyakit jantung, kecuali mereka mengubah gaya hidup dan pola makan. Al Qur'an mengatakan إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم"Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka".Jika ditengah perseteruan ini kita terus ngotot memandang pihak lain sebagai musuh, bagaimana mungkin kita mampu melihat peluang bagi perdamaian? Apa gunanya berbagi ini dan itu, menyepakati ini dan itu, mengatakan ini dan itu, jika kita tak pernah bersedia melepaskan cita-cita untuk membasmi lawan? Apakah kita akan terus bertarung sampai salah satu pihak musnah, walaupun harus selama-lamanya hidup dalam kesengsaran?Jika ingin menghentikan konflik, kita harus menghilangkan sebabnya. Kini setiap orang mengklaim bahwa sebab konflik ini adalah ketidakadilan. Maka masing-masing pihak menuntut keadilan. Tapi masing-masing punya perhitungannya sendiri-sendiri tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil. Dan konflik pun terus berlangsung tanpa ada saya mengatakan sesuatu yang semua orang sudah tahu tapi entah kenapa enggan mengingatnya, apalagi melaksanakannya. Bahwa keadilan bukan hanya soal menuntut, tapi juga soal memberi. Maka keadilan tak mungkin terwujud tanpa kasih-sayang. Orang yang tidak bersedia memberikan kasih-sayang tidak mungkin mau mempersembahkan keadilan. Ini adalah ruh agama. Inilah ruh Anda melihat kini, bahwa akar konflik ini bukan lagi ketidakadilan, tapi permusuhan. Kebencian kepada pihak lain akan senantiasa mendorong Anda untuk berbuat tidak adil kepada mereka dan menyakiti REUTERS/Ammar AwadRamadan di YerusalemApakah hilangnya permusuhan tergantung pada kepuasan semua pihak akan keadilan? Bagaimana mungkin? Sedangkan masing-masing punya perhitungan yang berbeda tentang keadilan dan bersikukuh dengan keinginan untuk saling menghancurkan?Tidak. Hilangnya permusuhan adalah soal pilihan. Apakah kita memilih dendam atau memaafkan? Apakah kita memilih kebencian atau kasih-sayang? Apakah kita memilih bertarung hingga musnah atau berdamai dan bekerja sama?Jelas bahwa pilihan-pilihan yang menjadi syarat bagi perdamaian bukanlah pilihan-pilihan yang mudah. Tapi selama kita tidak mengubah pilihan dari yang selama ini kita jalani, tidak akan ada jalan keluar sama sekali.[GambasVideo CNN]O, Palestina, dapatkah engkau mengistirahatkan jiwamu dari kemarahan dan dendam? O, Israel, dapatkah engkau menunda keresahanmu tentang rasa tak aman? O, Arab, dapatkah engkau merelakan ruang untuk berbagi? O, kaum Muslimin dan Yahudi, dapatkan kalian meletakan rasa saling curiga dan membangun masa depan bersama dengan ruh iman? O, Dunia! Dapatkah kalian membuat jeda dari perebutan kuasa dan sumberdaya-sumberdaya untuk perduli pada manusia? Manusia dengan darah dan daging seperti dirimu? Manusia dengan hati dan jiwa seperti milikmu? Manusia dengan orang-orang yang disayangi seperti engkau dengan kekasih-kekasihmu?إلى الله المشتكى وهو المستعان ولا حول ولا قوة إلا يالله العلي العظيمTuhanlah tempat mengadu dan Tuhanlah tempat memohon pertolongan dan tiada daya dan kekuatan selain dengan pertolonganNya. nat/nat
AIBukhari) Sebaik-baik rumah kaum ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah).
INFO NASIONAL - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia MPR RI Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diinisiasi oleh Sultan Sholahudin al-Ayyubi, memiliki kaitan yang sangat erat dengan perjuangan pembebasan Palestina dan Masjid Al Aqsha. Oleh karenanya, menjadi sangat wajar dalam masa peringatan Maulid Nabi, saat MPRRI menggelar Konferensi Internasional Pimpinan MPR, Majlis Syura dan Lembaga Parlemen sejenis dari parlemen-parlemen Negara OKI, di Bandung, 24-26 Oktober 2022, bila spirit membela Palestina menjadi salah satu materi yang dikedepankan. Soal Palestina itu disampaikan oleh berbagai delegasi dari Parlemen Turki, Irak, Maroko, Iran, Aljazair, Saudi Arabia, Bahrain, Pakistan, Palestina dan Indonesia, sehingga menjadi salah satu butir yang disepakati menjadi bagian dari keputusan forum yg dituangkan dalam Deklarasi Bandung. HNW -sapaan akrabnya- menjelaskan hal tersebut saat menyampaikan sambutan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh DPD PKS Jakarta Selatan, di Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2022. Dalam peringatan tersebut, selain dihadiri pimpinan PKS di Jakarta Selatan, juga hadir para Habaib, Kiyai, Ustadz, dan ustadzah dan Tokoh masyarakat se-Jakarta menuturkan gagasan awal peringatan Maulid adalah antara lain mencintai RasuluLlah dan meneladani suksesnya sebagai teladan pemersatu umat yang memenangkan perjuangan umat, yang kemudian dikorelasikan dengan perjuangan untuk membebaskan Masjid Al Aqsha Palestina."Sejarah Maulid Nabi ini sangat terkait dengan Palestina. Dan kini semakin relevan memperhatikan perkembangan penjajahan Israel terhadap Palestina yang semakin brutal dan meluas serta tidak mengindahkan resolusi-resolusi PBB,” ujarnya. Dalam konteks Indonesia dan dunia internasional, lanjutnya, spirit ini sudah ada sejak Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Sejak awal sikap Bung Karno sangat jelas mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, seperti menolak kehadiran Israel dalam Konferensi Asia dan Afrika dengan mengundang pimpinan Palestina yaitu AsSayyid alAmin alHusaini, Mufti Jerusalem dan Imam Masjid alaqsha.“Padahal saat itu Israel sangat berharap untuk diundang, tetapi justru Bung Karno mengundang mufti dari Palestina,” ucapnya. HNW melanjutkan bahkan dalam dunia olahraga, Bung Karno juga tetap menegaskan sikapnya, mendukung Palestina dan menolak penjajahan Israel. Misalnya, ketika Indonesia yang hampir masuk ke Piala Dunia 1958 menolak bertanding melawan Israel.“Ini bukan hanya sekadar masalah olahraga, tetapi juga masalah konsistensi terhadap Pembukaan UUD 45 bahwa penjajahan harus diakhiri dan ditolak, dan perjuangan kemerdekaan Palestina harus didukung," terhadap kemerdekaan Palestina itu, lanjut HNW, juga mewujud dengan berdirinya OKI dan Persatuan Parlemen negara-negara OKI. Indonesia pun aktif sebagai anggota di OKI maupun PUIC Persatuan Parlemen Negara-Negara anggota OKI.Menurutnya, Indonesia terbukti konsisten dengan sikap itu, sehingga dengan terbuka Indonesia dan Presiden Jokowi menolak keras klaim sepihak Israel bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel, sekalipun klaim itu didukung Amerika berhenti di situ, ujar dia, Presiden Jokowi dalam KTT Luar biasa OKI di Istambul, dengan lantang mengajak untuk bersatu membela Palestina merdeka dengan ibukotanya Yerusalem Timur. "Dukungan Presiden Jokowi terhadap perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Palestina, kembali disampaikan oleh Presiden Jokowi, saat menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Palestina, jelang digelarnya Konferensi MPR se dunia gagasan MPRRI," ujarnya. Oleh karena itu, HNW yang ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee penyelenggaraan Konferensi Internasional di Bandung itu menuturkan bahwa wajar bila spirit Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, berbarengan dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan berbagai perkembangan terkait perjuangan kemerdekaan Palestina, menyemangati berbagai delegasi pemimpin parlemen-parlemen dari Persatuan Parlemen-parlemen disepakati menjadi salah satu point dalam Deklarasi Bandung yang dibacakan oleh Ketua MPR RI, yang juga menandai pembentukan resmi Forum Majelis Syura se-Dunia yang diinisiasi oleh MPR RI.“Alhamdiulillah sejarah telah dibuat oleh MPR, yakni dengan terbentuknya Forum majelis syura atau lembaga sejenis bersama Persatuan Parlemen negara-negara OKI, dengan salah satu komitmennya mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina," ujarnya. HNW yang dipercaya Pimpinan MPR untuk juga Memimpin Persidangan termasuk Persidangan Panitia Perumus menyampaikan bahwa Forum yang diinisiasi MPR tersebut menyetujui dan memutuskan Deklarasi Bandung yang poin keduanya adalah dukungan terhadap perjuangan Bangsa Palestina."Ini sesuai dengan sikap Indonesia baik Pemerintah maupun Rakyatnya, selama ini," ucapnya. HNW memaparkan bahwa isi poin kedua Deklarasi Bandung itu adalah masalah Palestina tetap menjadi isu sentral Forum dan Umat Islam, hingga tercapainya kemerdekaan dan hak penentuan nasib sendiri untuk rakyat Palestina, serta berdirinya Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya, sesuai kerangka hukum lanjut HNW, spirit persatuan dan sukses pembebasan tersebut yang antara lain perlu terus kita jaga ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagaimana salah satu tujuan utama diselenggarakan kegiatan Maulid, yakni meneladani Rasulullah SAW yang antara lain mengajarkan pentingnya persatuan dan kerjasama menegakkan keadilan, untuk membebaskan Umat Manusia dari segala bentuk kedzaliman dan penjajahan, termasuk yang terkait dengan Palestina.*
Baca Solidaritas Palestina dan Tafsir Ayat Persaudaraan. Kitab al-Ja'fariyyat meriwayatkan dengan sanad dari Imam Ali a.s. bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda: "Siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin maka dia bukan termasuk orang Muslim.
Jakarta - Lailatul qadar adalah malam kemuliaan yang waktunya dirahasiakan Allah SWT. Orang yang berhasil meraih lailatul qadar tentu akan mendapatkan keutamaan dari malam tersebut. Al-Qur’an menjelaskan secara khusus tentang lailatul qadar dalam satu surah al-Qadr ayat 1-5. Disebutkan bahwa lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah dan malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. “Barang siapa yang bisa menghidupkan malam itu maka ibadah malam itu lebih bagus daripada Anda ibadah kaya gitu seribu bulan,” kata ulama kharismatik KH Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya di YouTube Al Bahjah TV. Viral Pengobatan Ida Dayak, Buya Yahya Singgung Rambu-Rambu Pengobatan Islam 5 Keutamaan Membaca Al-Qur'an di Malam Nuzulul Quran Bulan Ramadhan Doa Menyembelih Ayam dalam Bahasa Arab dan Latin, Lengkap dengan Tata Caranya Malam kemuliaan itu ada pada bulan Ramadhan. Namun, waktu tepatnya disembunyikan oleh Allah SWT. Tidak lain hikmahnya adalah agar umat Islam berlomba-lomba untuk meraih lailatul qadar. Banyak umat Islam yang rela beri'tikaf di masjid saat Ramadhan demi ingin meraih lailatul qadar. Biasanya masjid-masjid mulai ramai orang yang beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Saksikan Video Pilihan IniMalam Nuzulul Quran, Cawagub Taj Yasin dan Santri Cilacap Nyalakan Obor10 Hari Terakhir RamadhanIlustrasi orang yang mendapatkan syafaat dari malam Lailatul Qadar via terjadinya lailatul qadar dirahasiakan, namun beberapa hadis nabi menjelaskan tentang waktu malam kemuliaan itu. Mengutip NU Online, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa lailatul qadar terdapat pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان Artinya “Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” Muttafaqun alaihi dari Aisyah radliyallahu anha Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diterangkan bahwa pada 10 hari terakhir Ramadhan Rasulullah SAW menghidupkan setiap malamnya dan membangunkan keluarganya. كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ{ هذا لفظ البخاري Artinya “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhari. Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah RA. كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ Artinya “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” HR MuslimMalam Ganjil 10 Hari Terakhir RamadhanIlustrasi Masjid Credit Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah SAW yang lain, mengisyaratkan bahwa lailatul qadar ada pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan. تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ Artinya “Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan”. HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu anha Lebih khusus lagi, Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwa lailatul qadar terdapat pada tujuh hari terakhir Ramadhan. الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي Artinya “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan.” HR. Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ Artinya “Dia adalah malam ke-27. ” HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu anhuma, dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu anhu menegaskan والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين Artinya "Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam Lailatul Qadar tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." HR. Muslim Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, terutama pada malam tanggal ganjil. Dalam hadits Abu Dzar disebutkan أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً Artinya “Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka para sahabat pada malam dua puluh tiga 23, dua puluh lima 25, dan dua puluh tujuh 27 dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan istri-istrinya pada malam dua puluh tujuh 27.”Tetap Menghidupkan Malam GenapPemandangan saat umat muslim berdoa di halaman Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu 1/6/2019. Umat muslim memanjatkan doa-doa jelang berakhirnya Ramadan untuk mendapatkan Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari seribu bulan. KARIM SAHIB/AFPKendati demikian, Buya Yahya menyarankan tetap menghidupkan malam-malam genap pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. “Tetap hari yang lain diharap, sehingga jangan sampai kebiasaan kita mengambil ganjil seolah-olah genap gak mungkin datang lailatul qadar. Mungkin datang lailatul qadar di hari yang genap,” kata Buya Yahya.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
DariAbu Hurairah RA, ia berkata: "Rasulullah SAW. bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat)." (HR.
JAKARTA – Tanah Palestina adalah tanah umat Muslim. Orang Yahudi atau orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT tidak memiliki hak untuk memerintah di tanah Palestina. Hal ini sebagaimana surat Al Maidah 21. يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ "Nabi Musa AS berkata, Hai kaumku, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang karena takut kepada musuh, sehingga kamu menjadi orang-orang yang merugi." QS Al Maidah 21 Namun, ayat tersebut digunakan orang Yahudi sebagai bukti bahwa tanah Palestina adalah milik mereka. Padahal, ayat itu ditujukan kepada pengikut Nabi Musa AS yang beriman kepada Allah SWT. Dalam ayat tersebut juga, Allah SWT telah mengatur dan menetapkan bahwa pengikut Nabi Musa AS yang beriman kepada Allah SWT akan melakukan pertemuan dengan musuh-musuh Allah yang mengambil alih tanah Palestina dan apa yang ada di sekitarnya. Allah SWT memerintahkan umat Nabi Musa yang beriman kepada Allah SWT untuk mengusir Yahudi dari tanah Palestina karena itu adalah tanah umat Islam dan tidak dibolehkan bagi orang-orang kafir untuk memerintah di sana. Nabi Musa, begitu pun nabi-nabi yang lain, membawa agama Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ "Dan Musa berkata, 'Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Muslim berserah diri'." QS Yunus 84 Orang-orang Yahudi tidak beriman kepada nabi mereka, dan mencela Nabi Muhammad SAW dengan tidak mengakuinya sebagai utusan Allah SWT. Mereka menganggap Nabi SAW tidak punya hak untuk tidak beriman kepada Nabi Musa. Padahal, Allah SWT mengambil sumpah dari para nabi yang diutus-Nya sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran 81. وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ "Dan ingatlah, ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab "Kami mengakui". Allah berfirman "Kalau begitu saksikanlah hai para nabi dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu"." QS Ali Imran 81 Dengan demikian, umat Muslim harus mengusir Yahudi dari tanah Palestina, seperti ketika Allah SWT memerintahkan para pengikut Nabi Musa yang beriman kepada-Nya untuk mengusir mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT. Sumber islamweb
Diriwayatkanoleh Abdullah bin Amr, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda. "Ka'bah ini akan dirobohkan oleh Dzussuwaiqatain dari Habasyah. Dia merampas perhiasannya dan melepas kiswahya. Aku seakan-akan melihatnya, orangnya kecil botak dengan tulang-tulang persendian bengkok, sedang menghantam Ka'bah dengan sekop dan kapaknya." (HR. Imam Ahmad)
Palestinaadalah penyangga tiga agama besar di dunia. Yudaisme, agama Kristen, dan agama Islam berasal dari negeri kecil ini. Di sinilah Allah menyatakan diri-Nya kepada para leluhur dan nabi, kepada Yesus dan rasul-rasul-Nya. Menelaah geografi Palestina bukanlah sesuatu yang baru saja dilakukan.
Terlebihlagi, akar dari doa ini adalah bahasa Palestina, yang dikenal luas di luar sumber aslinya dan mungkin sebelum surat-surat Paulus.[7] Bauckham menulis tentang "asalnya yang sangat awal."[8] Paulus menerapkan nama ilahi (YHWH) pada Kristus melalui kurios "tanpa penjelasan atau pembenaran, yang menunjukkan bahwa pembacanya sudah akrab
xABpo.